Seputar Islam Liberal
Menguak
Gerakan Islam Liberal
Berikut ini adalah petikan dari ucapan beberapa tokoh
Islam Liberal di Indonesia disertai referensi yang cukup jelas untuk menjamin
otentisitasnya. Saya berusaha memberikan
jawaban seobjektif dan sesederhana mungkin dengan cara yang dapat dipahami
setiap orang. Hanya kepada Allah-lah
kami berlindung dari godaan syetan dari golongan jin dan manusia yang terkutuk.
“Semua agama sama.
Semuanya menuju jalan kebenaran.
Jadi, Islam bukan yang paling benar.”
(Ulil Abshar Abdalla, dari majalah GATRA,
21 Desember 2002).
Pertanyaan pertama yang harus diajukan adalah : apakah
Ulil sudah pernah melakukan studi perbandingan agama sebelumnya? Jika ya, agama-agama apa sajakah yang sudah
diperbandingkannya? Selain itu, sebagai
manusia yang intelek, seharusnya ia tidak membuat klaim begitu saja, melainkan
memberikan bukti-bukti yang konkrit.
Alangkah lebih baik jika ia membuat sebuah buku yang membuktikan bahwa
semua agama itu sama, atau menyelenggarakan sebuah seminar tentang itu, kemudian
menjadikannya sebagai rujukan dalam wawancara, agar para pembaca tidak menelan
bulat-bulat apa yang dikatakannya.
Kecuali, barangkali, ia memang ingin ucapannya ditelan bulat-bulat. Jika ini yang terjadi, maka Ulil dan Islam
Liberal sebenarnya adalah sebuah gerakan ekstremis yang dilandasi oleh
pemahaman yang fanatik. Terakhir, jika
memang ia menganggap semua agama itu benar, mengapa ia mencatut nama Islam
dalam organisasinya? Alangkah lebih
baiknya ia menyatakan diri sebagai penganut agama liberal dan mengubah nama JIL
menjadi JAL (Jaringan Agama Liberal).
Menganut paham ‘semua agama benar’ sekaligus menggunakan nama ‘Islam’
adalah suatu kontradiksi yang amat mengherankan.
“Tapi, bagi saya, all scriptures are miracles,
semua kitab suci adalah mukjizat.” (Ulil Abshar Abdalla, dari koran Jawa Pos, 11
Januari 2004).
Sekali lagi, perlu dipertanyakan (atas nama
keilmiahan) sejauh mana Ulil telah melakukan penelitian dan memperbandingkan
semua kitab suci dari berbagai agama.
Samakah Al-Qur’an dengan Bible?
Bagaimana Ulil bisa berpendapat bahwa semua kitab suci adalah
mukjizat? Di manakah bukti-bukti
kongkritnya? Jika ia tidak bisa menjawab,
maka sekali lagi, jelaslah bahwa JIL adalah organisasi ekstremis yang
anggotanya fanatik dan taqlid buta pada pemimpinnya.
“Karenanya, yang diperlukan sekarang ini dalam
penghayatan masalah pluralisme antaragama, yakni pandangan bahwa siapa pun yang
beriman – tanpa harus melihat Agamanya apa – adalah sama di hadapan Allah. Karena, Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang
Satu.” (Budhy
Munawar Rahman, dari buku Wajah Liberal Islam di
Indonesia terbitan JIL).
Tentu saja Tuhan kita semua adalah Tuhan Yang Satu,
Yang Maha Esa. Apa pun agamanya, hanya
ada satu ilah yang memegang kuasa penuh dan tak tertandingi. Namun masing-masing agama memiliki definisi
yang berbeda tentang ilah ini.
Umat Islam percaya pada Allah, umat Kristiani percaya pada konsep
trinitasnya. Samakah Allah dalam
pemahaman agama Islam dengan konsep trinitas yang dipegang teguh oleh umat
Kristiani? Rasanya saya belum pernah
mendengar ada orang yang mengatakan bahwa kedua konsep ketuhanan ini sama. Selain itu, nampaknya Budhy Munawar Rahman
ini khawatir bahwa memberikan predikat ‘kafir’ pada umat agama lain akan memicu
kekerasan antarumat beragama. Padahal,
secara bahasa, ‘kafir’ berasal dari kata yang sama dalam bahasa Arab yang
artinya ‘ingkar’. Orang yang kafir
adalah orang yang ingkar terhadap sesuatu (dalam hal ini ingkar terhadap ajaran
Islam). Tidak ada konsekuensi yang buruk
sama sekali atas keingkarannya itu, karena Islam tidak merasa perlu memaksa
orang lain untuk memeluk agama Islam.
Kekhawatiran kaum liberalis ini nampaknya mereka warisi dari para
mentornya yang berasal dari Eropa yang masih trauma dengan peristiwa inkuisisi,
yaitu pembantaian besar-besaran terhadap siapa saja yang dikategorikan ‘kafir’
oleh pihak Gereja.
“Jika semua agama memang benar sendiri, penting
diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri terdiri dari banyak pintu dan
kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk
tiap agama memasuki kamar surganya.
Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari
kelaparan, penderitaan, kekerasan dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua
agama. Dari sini, kerja sama dan dialog
pemeluk berbeda agama jadi mungkin.” (Abdul Munir Mulkhan, dari buku Ajaran
dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar).
Pertama, ia mengawali pernyataan ini dengan kata
“jika”. “Jika semua agama memang benar
sendiri…..” artinya adalah “belum tentu semua agama memang benar
sendiri…..”. Dengan sendirinya, semua
pernyataan setelah itu adalah sebuah hipotesa belaka dan tidak perlu dianggap
sebagai sebuah fakta, karena ia juga tidak pernah mengajukan secuil bukti dalam
bentuk apa pun. Kedua, ia melakukan
sebuah kesalahan fatal, yaitu dengan menganggap dirinya sudah sama dengan Tuhan
atau mampu berpikir layaknya Tuhan. Dari
mana datangnya teori bahwa semua agama pasti diridhai oleh Allah? Entahlah!
Saya rasa tidak perlu dijawab, karena ia sendiri tidak mengajukan alasan
apa pun. Kesalahan fatal ketiga adalah
dengan mengatakan bahwa teorinya (yaitu dengan menganggap semua agama sama)
adalah pembuka jalan bagi kerja sama dan dialog antarumat beragama. Kenyataannya, kerja sama dan dialog dapat
terjadi tanpa harus mengakui teori Abdul Munir Mulkhan tersebut. Saya menganggap kalimat terakhirnya itu
adalah sebentuk megalomania yang menganggap bahwa teorinya adalah teori sapu
jagat yang bisa menyelesaikan masalah.
“Jadi, pluralisme sesungguhnya adalah sebuah aturan Tuhan
(sunnatullah)
yang tidak akan berubah, sehingga juga tidak mungkin dilawan atau diingkari.” (Nurcholis Madjid,
dari buku Islam Doktrin dan Peradaban).
Perlu dipahami bahwa pluralitas dan pluralisme adalah
dua hal yang berbeda. Pluralitas adalah
fakta bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang berbeda-beda, sedangkan
pluralisme (menurut definisi Nurcholis Madjid sendiri, namun tidak disetujui
oleh Frans Magnis Suseno) adalah paham yang mengatakan bahwa semua agama itu
sama, yaitu sama-sama benar. Apakah
paham ini adalah sunnatullah?
Apakah ia tak dapat dilawan?
Sebaiknya Nurcholis Madjid bersikap bijak dan menunggu hingga akhir
jaman untuk melihat bukti apakah paham ini bisa dilawan atau tidak. Kenyataannya, banyak orang yang sedang
berjuang untuk melawannya. Salah satunya
adalah saya sendiri. Jadi, kalau Cak Nur
bilang bahwa pluralisme tidak mungkin dilawan, maka saya akan menjawab : “We’ll
see.”
“Prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur’an adalah
pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dalam setiap komunitas
beragama dan dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan. Lagi-lagi, prinsip ini memperkokoh ide
mengenai pluralisme keagamaan dan menolak eksklusifisme. Dalam pengertian lain, eksklusifisme
keagamaan tidak sesuai dengan semangat Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an tidak membeda-bedakan antara
satu komunitas agama dari lainnya.” (Alwi Shihab, dari buku Islam
Inklusif ; Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama).
Agaknya Alwi Shihab terlalu bersikap curiga pada umat
Islam sampai-sampai perlu diinklusifkan.
Padahal sudah sejak dahulu umat Islam tidak pernah bersikap eksklusif,
bahkan berhubungan baik dengan agama mana pun.
Jika memang ada sebagian Muslim yang bersikap ofensif terhadap umat
agama lain, maka yang perlu dilakukan adalah menasihatinya untuk kembali pada
ajaran Rasulullah saw., bukan mengarang-ngarang ajaran baru yang disebut
sebagai ‘Islam Inklusif’ atau ‘Islam Pluralis’.
Embel-embel apa pun yang disandingkan dengan nama Islam menunjukkan
bahwa ia bukanlah Islam murni. Apakah
Alwi Shihab hendak berkata bahwa Islam ini kekurangan sehingga perlu
dilengkapi? Sungguh sebuah gugatan yang
amat tidak pantas terhadap Allah SWT!!!
“Dan, konsekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths)
dalam tradisi dan agama-agama. Nietzsche
menegasikan adanya ‘Kebenaran Tunggal’ dan justru bersikap afirmatif terhadap
banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun
seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama – entah Hinduisme, Buddhisme,
Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya – adalah benar. Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan
ditemukan pada semua agama. Agama-agama
itu diibaratkan, dalam nalar pluralisme Gandhi, seperti pohon yang memiliki
banyak cabang (many), tapi berasal dari satu akar (the one). Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan
orientasi agama-agama. Karena itu, mari
kita memproklamasikan kembali bahwa pluralisme sudah menjadi hukum Tuhan (sunnatullah)
yang tidak mungkin berubah. Dan, karena
itu, mustahil pula kita melawan dan menghindari. Sebagai muslim, kita tidak punya jalan lain
kecuali bersikap positif dan optimistis dalam menerima pluralisme agama sebagai
hukum Tuhan.” (Sukidi,
dari koran Jawa Pos, 11 Januari 2004).
Dari uraian yang panjang ini, mari kita bagi menjadi
dua bagian, yaitu sebab dan akibat.
Pernyataan ‘sebab’ dalam rangkaian kalimat ini adalah pendapat dua orang
manusia, yaitu Nietzsche dan Mahatma Gandhi.
Dua orang manusia! Bernapas,
berdaging, dan kini sudah sama-sama mati.
Apa akibat yang ditimbulkan dari ‘sebab’ tadi? Karena Nietzsche dan Mahatma Gandhi berkata
begini-begitu, maka (menurut Sukidi) kita harus memproklamasikan pluralisme
sebagai hukum Tuhan. Siapakah sebenarnya
Nietzsche dan Mahatma Gandhi, hingga kata-katanya harus kita telan bulat-bulat? Sesukses apakah hidupnya dibandingkan dengan
Muhammad saw.? Jika kata-kata Rasulullah
saw. (yang merupakan manusia paling berpengaruh di dunia hingga detik ini) pun
harus dikritisi (menurut kaum liberalis dan pluralis), maka mengapa dua manusia
ini tidak perlu dikritisi? Kritik saya
satu saja : buktikan bahwa semua agama mengandung kebenaran yang sama! Umat Islam tidak mungkin menerima konsep
trinitas, dan umat Kristiani pastilah menolak kalau kaum perempuannya
dipakaikan jilbab. Samakah Islam dan
Kristen? Samakah Hindu dan Yahudi? Samakah Buddha dan Zoroaster? Adapun mengenai masalah pluralisme yang
dianggap sebagai sunnatullaah yang tidak bisa dilawan, saya sudah
menjelaskannya pada bagian sebelumnya.
“Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan
kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya yang Mahaluas,
di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain; Jesus, Muhammad,
Sahabat Umar, Gandhi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin,
Baharudin Lopa, dan Munir!” (Sumanto Al-Qurtuby, dari buku Lubang
Hitam Agama).
Sekali lagi, pernyataan ini diawali dengan kata “jika”
dan “mungkin”. Artinya, hanya sebuah
kemungkinan yang mampu dipikirkan oleh benak seorang Sumanto. Saya menganggapnya sebagai sebuah hipotesa
yang tidak perlu ditanggapi serius karena memang sama sekali tidak ilmiah.
* * * * * * *
Anda perlu gambaran lebih lanjut? Saya akan mengutip beberapa tulisan Sumanto
Al-Qurtuby dalam bukunya yang berjudul Lubang Hitam Agama. Silakan Anda menilai sendiri!
“Bahkan sesungguhnya hakekat Al-Qur’an bukanlah
‘teks verbal’ yang terdiri atas 6666 ayat bikinan Utsman itu melainkan
gumpalan-gumpalan gagasan.” (hal. 42)
“Al-Qur’an bagi saya hanyalah berisi semacam
‘spirit ketuhanan’ yang kemudian dirumuskan redaksinya oleh Nabi.” (hal.
42)
“Seandainya (sekali lagi seandainya) Pak Harto
berkuasa ratusan tahun, saya yakin Pancasila ini bisa menyaingi Al-Qur’an
dalam hal ‘keangkeran’ tentunya.” (hal. 64)
“Di sinilah maka tidak terlalu meleset jika
dikatakan, Al-Qur’an, dalam batas tertentu, adalah “perangkap” yang
dipasang bangsa Quraisy (a trap of Quraisy).” (hal. 65)
Na’uudzubillaah!
Mengapa
Jaringan Islam Liberal Begitu Jumawa?
Jakarta (voa-islam.com) -
Banyak pihak yang belum memahami tentang sepak terjang JIL yang gemar
mengobok-obok kedamaian umat Islam di Indonesia pada khususnya. Sebagai negara
dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, kaum Yahudi dengan Freemasonry
mendukung JIL yang juga sesungguhnya didanai oleh Asia Foundation yang
disupport oleh CIA, badan intelejen AS.
Apa itu Islam liberal dan Mengapa
disebut Islam Liberal?
“Islam liberal” sejatinya pembangkangan diri dan
pemikiran melalui gerakan, yayasan, kantor berita, gerakan politik terhadap
islam ala Nabi Muhammad SAW. Pemikiran Islam (klaim mereka) menekankan
kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas.
Tujuan JIL adalah menyebarkan gagasan Islam Liberal seluas-luasnya kepada
masyarakat dengan dukungan Yahudi Internasional yang bercokol kuat di Indonesia
dan dukungan pemerintah AS melalui Asia Foundation yang disokong oleh CIA dan
Imperialisme Barat dan kini menguasai Universitas Paramadina dan UIN Syarif
hidayatullah Jakarta.
JIL lebih mirip kepanjangan imperalisme Barat atas
dunia Islam yang dicarikan bentuk pembenarannya dari khazanah Islam. Dari segi
politis, ada benang merah dengan CIA. JIL yang resmi hadir sekitar Maret
2001— impact penting yang timbul dari lahirnya gudang pemikiran itu adalah lahirnya
atmosfir ‘ndableg alias konyol’ yang oleh kebanyakan pengikutnya disebut dengan
istilah “kekritisan berfikir”. Mereka begitu semangat ‘mengkritisi’ Al-Qur’an,
menolak beberapa nash hadits-hadish shahih, serta menuduh para ulama’ sebagai
kelompok konservatif. Dilain pihak, mereka bahkan teramat sibuk bergelut dengan
referensi-referensi liberal. Bacaan-bacaan wajib mereka, kini Tahrirul Mar’ah
milik Qasim Amin, The Spirit of Islam-nya Amir Ali, serta Al Islam wa Ushul Al
Hukmi yang sesungguhnya hanya jiplakan dari tulisan orientalis Inggris Thomas
W. Arnold.
Nama-nama semisal, Sayid Ahmad Khand, Arkeun, Ali
Abdul Razik, Charles Kuzman, Fatimah Marnissi, Nasir Hamid Abu Zaid dan
Fadzlurrahman seolah-olah “kitab suci” baru yang kini melekat di otak mereka. Di
saat yang sama, mereka mulai tampak malas menelaah Al-Qur’an, bahkan boleh jadi
mules (muak, red) jika mendengar dalil-dalil dari hadits.
Yang jelas, mereka begitu percaya diri dengan
identitas itu, dan begitu bangga disebut liberal. Karena dukungan AS, lembaga
Islam dikuasai pemikiran liberal, baik Kementerian Agama, Universitas Negeri
Islam (UIN), dan sampai tokoh-tokoh politik dan cendekiawan yang dilabelkan
pada tokoh Islam Liberal.
Kalau kita mengamati dengan seksama tentang
agenda-agenda JIL, maka kita akan menemukan korelasi antara imperialisme barat
dan agenda JIL. Luthfi Asy-Syaukanie, salah satu motor JIL pernah menyebut
dengan jujur empat agenda utama lahirnya Islam Liberal. Pertama, agenda
politik, Kedua, agenda toleransi agama, Ketiga, agenda emansipasi wanita, dan
Keempat, agenda kebebasan berekpresi. Dalam agenda politik, misalnya, kaum
muslimin “diarahkan” oleh JIL untuk mempercayai sekularisme, dan menolak sistem
pemerintahan Islam (Khilafah). Dalam agenda plurarisme, kelompok ini menyeru
bahwa semua agama adalah benar, tidak boleh ada truth claim. Agenda emansipasi
wanita, seperti menyamaratakan secara absolut peran atau hak pria dan wanita
tanpa kecuali, dan agenda kebebasan berekspresi, seperti hak untuk tidak
beragama, tak jauh bedanya dengan agenda politik di atas. Semua ide-ide ini
pada ujung-ujungnya, pada muaranya, kembali kepada ideologi dan kepentingan
imperialis. Adian Husaini dan Nuim Hidayat menandaskan, Karena itu, sulit
sekali-untuk untuk tidak mengatakan --minimal mustahil-- mencari akar
pemikiran-pemikiran tersebut dari Islam itu sendiri secara murni, kecuali
setelah melalui pemerkosaan teks-teks Al-Qur’an dan As-Sunnah. Misalnya teologi
pluralisme yang menganggap semua agama benar, sebenarnya berasal dari hasil
Konsili Vatikan II 1963-1965) yang merevisi prinsip extra ecclesium nulla salus
(di luar Katolik tak ada keselamatan) menjadi teologi inklusif-pluralis, yang
menyatakan keselamatan dimungkinkan ada di luar Katolik. (Islam Liberal:
"Sejarah, Konsepsi dan Penyimpangannya", Adian Husaini dan Nuim
Hidayat).
Selain itu, dari kerangka ideologi, ide-ide JIL sendiri, dapatlah kiranya
dinyatakan sebagai ide-ide kapitalisme. Luthfi Asy-Syaukanie dalam bukunya
Wajah Liberal Islam di Indonesia (2002) telah berhasil menyajikan deskripsi dan
peta ide-ide JIL. Jika dikritisi, kesimpulannya adalah di sana ada banyak
contekan sempurna terhadap ideologi kapitalisme.
Tentu ada kreativitas dan modifikasi. Khususnya
pencarian ayat atau hadits atau preseden sejarah yang kemudian ditafsirkan
secara paksa agar cocok dengan kapitalisme. Ide-ide besar kapitalisme itu
antara lain; (1) sekularisme, (2) demokrasi, dan (3) kebebasan. Dukungan kepada
sekularisme --pengalaman partikular Barat-- nampak begitu getolnya mereka
melakukan penolakan terhadap bentuk sistem pemerintahan Islam (khilafah), dan
penolakan yang begitu bersemangat terhadap syariat Islam. Tetapi mereka
menerima begitu saja semua gagasan demokrasi tanpa ada nalar kritis.
Istilahnya, mereka cepat-cepat ‘melek’ (terbelalak) jika mengkritisi Islam,
tapi buru-buru buta (pura-pura tak melihat) jika sumber-sumber itu datangnya
dari Barat. Kentalnya ide-ide pokok kapitalisme dan berbagai derivatnya ini,
masih ditambah dengan suatu metode berpikir yang kapitalistik pula, yaitu
menjadikan ideologi kapitalisme sebagai standar pemikiran. Meminjam bahasa Al
Jawi, ide-ide kapitalisme diterima lebih dulu secara taken for granted dan
dianggap benar secara absolut, tanpa pemberian peluang untuk didebat (ghair
qabli li an-niqasy) dan tanpa ada kesempatan untuk diubah (ghair qabli li
at-taghyir). Lalu ide-ide kapitalisme itu dijadikan cara pandang (dan hakim!)
untuk menilai dan mengadili Islam.
JIL, Asia Foundation dan CIA
The Asia Foundation adalah LSM raksasa yang markas
besarnya di San Fransisco. LSM ini memiliki 17 kantor cabang di seluruh Asia,
termasuk Washington, D.C. Tahun 2003 kemarin, The Asia Foundation mengucurkan
bantuan sebesar 44 juta USD dan mendistribusikan 750 ribu buku dan materi
pendidikan yang nilainya berkisar mencapai 28 juta USD di seluruh wilayah Asia.
Sebagaimana dikutip situs resmi pemerintah AS, http://usinfo.state.gov, Oktober
lalu –beberapa hari menjelang Pemilu di Afghan-- lalu, The Asia Foundation,
membikin program The Mobile Theater Project, sebuah bioskop keliling. Dengan
alasan pendidikan demokrasi --atau lebih tepat kampanye pemaksaan demokrasi—
mereka berkeliling kampung untuk memutar film dengan ditonton sekitar 430.000
pemirsa. Di Indonesia, dalam Pemilu 2004 kemarin, seperti diakuinya di situs
http://www.asiafoundation.org/, lembaga ini ikut mendanai JPPR (JPPR atau
Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat) dengan mempekerjakan 141.000 relawan
dan melakukan training kurang lebih 70 ribu orang. Mereka bisa memanfaatkan
radio dengan asumsi 25 juta pendengar, memanfaatkan TV yang ditonton 74 juta
pemirsa, juga menguasai media cetak dengan perkiraan dibaca 3 juta orang. Di
Indonesia, keberadaanya sudah ada sejak tahun 1970. Mereka berdiri di balik
program-program bernama; training keagamaan, studi gender, HAM dalam Islam,
civic education di lembaga-lembaga Islam, pusat pembelaan perempuan untuk Islam
(Muslim Women Advocacy), dan isu-isu pluralisme, paralalel dengan
program-program JIL. Jika dilihat berbagai agenda dan kegiatannya selama ini,
ada korelasi antara agenda-agenda JIL dengan LSM Raksasa bernama The Asia
Foundation.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa kehidupan kelompok ini amat tergantung pada
kucuran dana dari The Asia Foundation. Dan karena donor yang amat besar dari
LSM ini, maka JIL dalam waktu yang relatif singkat sudah bisa mendirikan Radio
satelit pertama di Indonesia, Radio 68H, yang siarannya direlai puluhan
pemancar radio di Indonesia, mampu membeli satu halaman penuh koran Jawa Pos,
bahkan mampu menayangkan iklan-iklan di televisi dengan durasi yang panjang,
semisal iklan “Islam Warna-Warni” yang akhirnya berhenti tayang karena somasi
MMI, bahkkan bisa menghidupi kegiata-kegiatan mereka yang membutuhkan biaya
besar. Jika ditilik dari sponsor utama (sebut The Asia Foundation) yang selama
ini menjadi ‘penyangga’ utama pendanaan JIL, bisa ditarik kesimpulan bahwa The
Asia Foundation adalah jaringan ‘induk’nya. Dengan bahasa lain, JIL adalah
‘karyawan’ The Asia Foundation yang bertugas di lapangan, untuk menjalankan
proyek-proyek besarnya.
The Asia Foundation, yayasan ini ditengarai banyak mendanai kegiatan-kegiatan
dalam rangka penyebaran paham kapitalisme dan sejenisnya. Yang paling nampak
mencolok keterlibatan The Asia Foundation bagaimana dia mem-back up Tim
Pengarasutaman Gender (PUG) bentukan Departemen Agama, yang kemudian berhasil
menyusun draf Kompilasi Hukum Islam yang isinya kemudian menimbulkan
kontroversial. Merujuk sebuah makalah yang berjudul CIA's Hidden History in the
Philippines, Roland G. Simbulan, yang disampaikan pada ceramahnya di University
of The Philipinnes (18 Agustus, 2000), mengutip dari tulisan seorang sosiolog
Amerika, James Petras, yang dimuat dalam Journal of Contemporary Asia,
menggambarkan, bagaimana LSM yang besar bisa dikendalikan --jika tidak didukung
oleh pemerintah Amerika-- atau perusahaan raksasa yang dikendalikan agen-agen
rahasia atau CIA yang ingin memanfaatkannya sebagai sarana penyamaran. Yang
dimaksud Petras, hal itu untuk mengelabuhi dan menghindari konflik yang
diakibatkan benturan langsung terhadap struktur resmi pemerintahan. Serta
menghindari class analysis adanya penjajahan dan eksploitasi kapitalis. Roland
G. Simbulan juga menjelaskan bahwa yang memainkan peran CIA yang paling
menonjol di Manila adalah The Asia Foundation. Pernyataan ini dinilai cukup
valid, karena didasari oleh pernyataan seorang anggota Departemen Birokrasi
Amerika, William Blum. Dalam sebuah resensi buku yang berjudul Asia Foundation
is the principal CIA front, dalam salah satu buku seorang jurnalis investigasi
majalah Times, Raymond Bonner, yang berjudul: Waltzing with a Dictator: The
Marcoses and the Making of American Policy, menyatakan bahwa “Asia Foundation
adalah bentukan dan kedok CIA!”. Ini semakin diperkuat oleh interview Roland G.
Simbulan dengan seorang mantan mata-mata CIA yang beroperasi di Philipina pada
tahun 1996, dimana ia aktif menggunakan yayasan ini (The Asia Foundation)
sebagai agen. Bahkan secara terang-terangan pula diungkapkan dalam laporan
tahunan The Asia Foundation, tahun1985, yang menyebutkan di dalamnya pernyataan
Victor Marchetti, salah satu dari pimpinan deputy CIA, bahwa “Asia Foundation
didirikan oleh CIA dan sampai 1967 mendapat subsidi darinya.” (Asia Foundation
Annual Report, 1985). Jelas, bahwa LSM The Asia Foundation memang bentukan CIA,
didirikan sebagai alat, dan sarana untuk memperluas dan mempermudah proses
imperialisme Amerika Serikat terhadap Negara-negara lain di kawasan Asia
Pasifik dengan cara non konfrontatif. Dari sini pulahlah, boleh jadi, JIL
--setelah dilihat dari substansi ide yang diusung, serta pertnershipnya-- bahwa
sesungguhnya aktifitasnya tidak ada hubungannya dengan Islam, tidak pula ada
sangkut-pautnya dengan perbedaan metode penafsiran nash, pembaharuan,
pencerahan, atau sifat kritis. Aktifitas JIL, sekali lagi --boleh jadi-- tak
lain, merupakan kemungkinan aktivitas intelejen asing yang hendak menancapkan
kuku-kuku imperialismenya di bumi umat Islam, umumnya dan Indonesia, pada
khususnya. Benarkah demikian? Wallahu a’lam.
Waspada pada Pemikiran Tokoh Sesat
di bawah ini agar tidak tertipu manis kata dan bualan mereka agar tidak
tersesat dunia dan akhirat:Daftar 50 TOKOH JIL INDONESIA
A. Para Pelopor
1. Abdul Mukti Ali
2. Abdurrahman Wahid (Mantan Presiden)
3. Ahmad Wahib
4. Djohan Effendi
5. Harun Nasution
6. M. Dawam Raharjo (Tokoh liberal)
7. Munawir Sjadzali (mantan Menteri Agama)
8. Nurcholish Madjid (Cak Nun)
B. Para Senior
9. Abdul Munir Mulkhan
10. Ahmad Syafi’i Ma’arif
11. Alwi Abdurrahman Shihab
12. Azyumardi Azra (Mantan Rektor UIN Jakarta)
13. Goenawan Mohammad (Tempo)
14. Jalaluddin Rahmat (Tokoh Syiah dan Lintas Agama)
15. Kautsar Azhari Noer
16. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta, saat ini, 2011)
17. M. Amin Abdullah
18. M. Syafi’i Anwar
19. Masdar F. Mas’udi
20. Moeslim Abdurrahman
21. Nasaruddin Umar
22. Said Aqiel Siradj
23. Zainun Kamal
C. Para Penerus “Perjuangan”
24. Abd A’la
25. Abdul Moqsith Ghazali
26. Ahmad Fuad Fanani
27. Ahmad Gaus AF
28. Ahmad Sahal
29. Bahtiar Effendy
30. Budhy Munawar-Rahman
31. Denny JA
32. Fathimah Usman
33. Hamid Basyaib
34. Husein Muhammad
35. Ihsan Ali Fauzi
36. M. Jadul Maula
37. M. Luthfie Assyaukanie
38. Muhammad Ali
39. Mun’im A. Sirry
40. Nong Darol Mahmada
41. Rizal Malarangeng
42. Saiful Mujani
43. Siti Musdah Mulia
44. Sukidi
45. Sumanto al-Qurthuby
46. Syamsu Rizal Panggabean
47. Taufik Adnan Amal
48. Ulil Abshar-Abdalla
49. Zuhairi Misrawi
50. Zuly Qodir
Sumber (dbs/Buku : 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia : Pengusung Ide
Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme/voa-islam.com/d5vn2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar